Sabtu yang lalu, tanggal 10 April 2010 aku ikut seminar tentang penentuan arah kiblat. Seminar ini diadakan oleh Departemen Agama Kota Jogja. Dalam seminar ini dikatakan bahwa sebagian besar masjid yang ada di kota Jogja masih melenceng arah kiblatnya, padahal salah satu syarat sah sholat adalah menghadap ke kiblat. Seminar ini diisi oleh bapak Mutoha Arkanudin (http://mutoha.blogspot.com), anggota Badan Hisap Rukyat (BHR) Kanwil Depag Jogja. Untuk mengetahui ringkasan isi seminar dan cara-cara perhitungan kiblat, sudah aku unggah dan dapat diunduh dari sini.

Secara garis besar, ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengukur kiblat. Yang pertama adalah menggunakan bayang-bayang matahari. Kalau mau dijelaskan secara mendetail, akan banyak rumus dan ilmu trigonometri yang digunakan dan dijamin anda-anda semua bakalan muntah-muntah ngeliatnya, hahaha… Aku buat simple aja, pada waktu tertentu matahari akan berada tepat di atas Ka’bah. Waktu-waktu ini disebut dengan Azimuth matahari atau bayang pagi. Untuk lengkapnya bisa dilihat pada berkas KIBLAT_MATAHARI.pdf. Setiap hari, matahari akan berada di atas Ka’bah pada waktu yang berbeda. Nah, jika pada waktu-waktu tertentu itu kita menegakkan sebuah tongkat, maka akan terbentuk bayang-bayang tongkat oleh matahari. Bayang-bayang tongkat inilah yang akan menunjukkan arah kiblat. Dari bayang-bayang ini dapat ditarik garis garis lurus sehingga langsung didapat arah kiblat, mudah kan.. Namun yang harus diingat, waktu pengukuran bayang-bayang matahari harus tepat saat Azimuth Matahari seperti yang tertulis pada berkas  KIBLAT_MATAHARI.pdf.

Cara kedua adalah menggunakan kompas. Cara ini menurutku lebih mudah daripada menggunakan matahari, karena bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu matahari muncul. Sebagai contoh akan dilakukan pengukuran di daerah Yogyakarta. Menurut perhitungan yang telah dilakukan oleh para ahli hisab, Kiblat terletak pada arah barat dengan sedikit geser ke kanan sejauh 24,7 derajat. Arah inilah yang dapat digunakan untuk menentukan posisi kiblat berada. Cukup tentukan arah utara dengan menggunakan kompas, maka otomatis akan didapatkan arah barat. Dari arah barat, gunakan busur derajat untuk menghitung sudut sebesar 24,7 atau 25 derajat. Sebagai catatan, pengukuran dengan kompas harus dilakukan di area yang tidak terpengaruh oleh medan magnetik. Sebagai contoh, pengukuran dengan kompas tidak bisa dilakukan di lantai 2 masjid karena pada dasar lantai 2 terdapat banyak besi untuk bangunan, besi besi ini akan mempengaruhi magnet kompas yang digunakan untuk mengukur sehingga hasilnya kurang tepat. Pengukuran bisa dilakukan di lantai 1 yang pondasinya tidak dibuat dari besi. Untuk kota selain Yogya, maaf aku tidak punya data berapa besar sudut yang digunakan, jadi cari sendiri di internet yaaa….

kompas

Setelah tahu bagaimana cara mengukur arah kiblat, semoga teman-teman semua bisa ikut menyampaikan ilmu ini dan masjid-masjid yang ada di sekitar kita bisa tepat arah kiblatnya sehingga ibadah shalat bisa lebih sempurna di hadapan Allah SWT, amin…

Mari berbagi:
  • Print
  • PDF
  • Facebook
  • RSS
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay
  • Add to favorites
  • blogmarks
  • Diggita
  • email
  • Live
  • MySpace
  • Ping.fm
  • Socialogs
  • StumbleUpon
  • Technorati
  • Twitter
  • Webnews.de
  • Yahoo! Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • Share/Bookmark

No related posts.